Rabu, 25 Juni 2014

Liebster Award

Assalamu’alaykum microblogger semuaaaaa! 
Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT atas nikmat dan cobaan yang telah diberikan silih berganti. Nah, opening dulu yaaa... mau berbagi kabar sama temen-temen semua bahwa pada saat ini, saya telah berada di penghujung semester dua. Gak terasa ya, betapa cepatnya waktu menderu. Muehehehe.

Nah, tujuan dari postingan kali ini lumayan simpel sih. Jadi ceritanya... My Micro Blog dikasi award sama bang Kutu... itu loh, abang-abang yang punya blog kata-kutuku.net. Award kali ini bernama “Liebster Award”. Rules award nya gini nih... Kalo kamu terpilih untuk dapat award ini, maka kamu harus jawab 11 pertanyaan yang diberikan oleh pemberi award. Jangan lupa sertakan backlink sang pemberi award yaaa. Habis itu, kamu juga berkewajiban memberikan award ini ke 11 orang lainnya dan disertakan dengan 11 pertanyaan yang kamu bikin. Ntar 11 orang penerima award dari kamu juga harus menjawab pertanyaan darimu. Gimana? Simpel, kan? 

Oke deh, kita mulai aja ya. Kali ini saya akan coba menjawab 11 pertanyaan dari bang Kutu. 
Here it goes.... 

1. Deskripsikan “Kutu” dalam satu kalimat! 
ABANG-able 

 2. Lebih suka masa lalu apa masa sekarang? 
Masa depan *eh 

3. Hal yang paling kalian rindukan dari masa kecil? 
Selalu bisa ketawa lepas serasa ga punya beban hidup. Rindu diajak ke warung kopi sama Bapak. Rindu berkubang di parit sambil nangkap ikan. Rindu manjatin pohon mangga, jambu, manggis, kelapa. Rindu nangkapin belut di sawah. Rindu ngerjain mamang pentol sama mamang es krim. (tiap mamang nya lewat, pasti bilang gini: “maaaangg... gil jaaak”. Atau manggilin mamang yang lewat dari atas pohon. Ntar pas mamangnya nyari-nyari siapa yang manggil, baru deh ketawa-tawa di atas pohon). Rindu juga main petasan tiap abis taraweh sama temen-temen. Rindu dikasi angpao kalo lebaran. Rindu main guli (kelereng), layangan, tabak, kasti dan lain lain. Rindu makan tebu yang baru dipanen. Rindu sama temen-temen masa kecil yang udah pada hijrah ke kota laiiiiinnnn T_T 

4. Masih ingat nggak email pertama yang kalian buat? sebutin dong 
Masih sih. Email pertama yang aku buat waktu itu... isinya kosong, cuma buat ngelampirin file lomba cerpen aja :p 

5. Ceritain dong hal memalukan yang pernah kalian lakukan? 
Apa yaaaaa... hmmmm.... nyerah deh... udah lupaaa 

6. Pernah nyontek dikelas? Pernah ketauan? 
Waktu itu khilaf... pernah nyontek sekali... tapi alhamdulillah gak ketahuan dan akhirnya tobat :D 

7. Apa mimpi yang sedang kalian kejar? 
Bisa bermanfaat bagi orang banyak, trus cepet-cepet jadi dokter. Kalo udah jadi dokter, pengen jadi relawan medis di Palestina. Aamiin ^^ 

8. Apa itu pernikahan menurut sudut pandang kalian? 
Pernikahan? Ibadah dan komitmen! 

9. Kriteria isteri / suami idaman? (kayaknya ni pertanyaan mainstream, tapi gpp dah) 
Soleh aja. Insya Allah cukup. 

10. Kesan untuk kutu? 
Abang ini hekel yang baik banget, sumpah :D 

11. Pesan untuk kutu? 
Jangan suka galau bang... Terus ikhtiar. Kalo emang udah waktunya, jodohnya pasti datang kok, bang :D 


Well, ini dia 11 orang yang merugi beruntung buat dapat award dari saya: 
1. Kak Yani “kepik” 
2. Bang Yahya “mamon” 
3. Bang Basith 
4. Bang dwi “bloggerborneo” 
5. Kak Noffa Rinandha
6. Bang Feri “kutu” (cieee dapat award balik :p)
7. Kak picha 
8. Kak deput 
9. Kak Vania Padilah 
10. Bang Ahmad Firdaus “madz” 
11. Dek Emelia Ariska 

Jadi, pertanyaan dari saya: 
1. Bagi kamu, apa arti “hidup”? 
2. Kamu itu tipe orang yang gimana? Koleris, sanguinis, plegmatis atau melankolis? 
3. Udah pernah donor darah belum? Ceritain pengalamannya dooong ^^
4. Cita-cita kamu apa? 
5. Pandangan kamu terhadap profesi “dokter”? 
6. Pernah punya pengalaman yang buruk dan/atau berkesan sama dokter gak? 
7. Buku favorit kamu apa? 
8. Udah boleh milih buat pilpres 2014 belum? 
9. Udah punya pilihan diantara kandidat presiden 2014? 
10. Bagi kamu, politik itu apa sih? 
11. Presiden ideal menurut kamu yang gimana?
Read More..

Minggu, 20 April 2014

Terlarut. Kadang

Dan selarut ini, kau masih disitu juga. Menyeruput kopi hitam yang kaca-kaca cangkir pun sudah tak mampu lagi membuatnya terjaga hangat. Uap panas yang rajin mengepul telah lama hilang seiring dengan berkurangnya suhu. Suspensi diskontinu dalam cangkirmu dengan cepat terdispersi, terpisah antara satu dengan lainnya.
Akan seperti itukah kau meninggalkanku?

Dan selarut ini, kau masih disitu juga. Menyeruput kopi hitam yang kuseduh sedari pagi tadi. Pekat hitamnya menyamai gelap malam. Kental endapannya terpantul jelas dari iris matamu.
Apakah pahitnya akan sama dengan hidupmu?

Dan selarut ini, aku masih disini. Menuangkan pertanyaan-pertanyaan berjawaban entah ke dalam cangkir kopi-mu.
Masihkah kau marah padaku?

Pontianak, 20 April 2014
Read More..

Rabu, 12 Februari 2014

Campaign for International Hijab Day – Feb 14, 2014

source: http://muslimahheart.files.wordpress.com/2013/07/2013-03-07-05-57-11.png
“Ngapain mesti repot2 berhijab? Hijab hanya akan membatasi ruang gerakmu, Dar.”

“Kamu mau naik roller coaster pake rok, Dar? Yang bener?” 

“Kenapa harus pake jilbab panjang gitu? Ga modis...” 

“Kakak naik gunung pake jilbab, gak kepanasan kak? Pake rok lagi?” 

Well, ini adalah beberapa kalimat-kalimat kontra yang pernah dilayangkan pada saya. Simpel, karena saya berhijab. Teman-teman dan adik-adik yang masih awam seringkali berpikiran bahwa hijab hanya akan menambah repot saja, tidak simpel, tidak modis, dsb. Memang pada kenyataannya hijab itu tidak simpel. Kamu akan perlu waktu beberapa menit lebih lama untuk memasang kerudung, berpeniti disana-sini, jepit sana-sini. Tapi itu sama saja dengan waktu yang akan kamu habiskan untuk berbandana disana-sini, kuncir rambut sana-sini. Berhijab memang tidak simpel, tapi saya adalah orang yang percaya pada kalimat “Where there is a will, there is a way”. Hijab memang tidak simpel, tapi kamu akan selalu punya strategi bagaimana membuatnya menjadi “tidak terlalu ribet”. 

Hijab itu kewajiban, dan hijab adalah identitas. Pernah suatu hari di Hongkong kami bertemu dengan warga negara sana yang berjilbab. Usianya tak muda lagi, mungkin sudah kepala 5 atau 6. Senang rasanya menemukan sesama minoritas di negeri kapitalis tersebut. Ibu itu tersenyum pada kami, mengucapkan salam dan kemudian mendekat pada Yuris. Kemudian ia dengan fasihnya mengajak Yuris berbicara. Saya tak tahu bahasa apa yang digunakannya, entah Mandarin, Khek, ataupun bahasa lain. Pelajaran Bahasa Mandarin selama 3 tahun yang saya dapatkan di SMP rasanya tak ada guna di Hongkong. Kami yang sama-sama tak mengerti apa yang dibicarakan Ibu itu pun hanya bisa tersenyum sambil nyengir. Tak bisa merespon. Salah satu dari kami pun mencoba menjelaskan bahwa kami tak mengerti apa yang dikatakan ibu itu. “I’m sorry ma’am... But, could you speak English?” Dan alhamdulillah, seperti mengerti akan kondisi kami, ibu itu tersenyum dan dengan semangat mengambil ancang-ancang untuk menjawab. Sayangnya, lagi-lagi ia menjawab dengan bahasa entah Mandarin ataupun Khek, kami tak tahu. 

Dengan semangatnya yang besar tatkala menyampaikan cerita pada kami (walaupun kami tak tahu apa artinya), saya menduga bahwa ibu itu menceritakan tentang bagaimana senangnya ia bertemu sesama Muslimah di negeri tersebut. Kebahagiaan itu tampak dari binar matanya, tampak dari indahnya raut wajah dan senyum yang digoreskannya. Saya tahu betapa suuuusssaaaahhhnya menemukan sesama “hijaber” di daerah minoritas Muslim seperti itu. Bahkan saat kami makan di restoran Muslim di China, para pegawainya memang berkerudung, tapi kerudungnya tidak menutupi telinga. Entah apa maksudnya, tapi keterbatasan waktu membuat saya tak sempat bertanya apa alasannya. 

Kembali kepada ibu itu lagi. Ia tersenyum pada kami, mengucap salam dan bercerita dengan segenap keindahan binar matanya, padahal kami baru pertama kali bertemu. Padahal kami kenal pun tidak. Simpel, semuanya karena hijab. Inilah yang saya sebut dengan ukhuwah Islamiyah. 

Memang, hijab tidak selamanya “tidak ribet”. Karena menurut pengalaman beberapa teman saya, urusan di keimigrasian beberapa negara akan dipersulit jika kamu berhijab ataupun memiliki nama-nama berbau Islam, seperti Abdul, Muhammad, dll. Dan sekali lagi saya ingatkan, “Where there is a will, there is a way”. Memang, pada saat naik gunung rok kamu bisa saja tersangkut di tumbuhan berduri, dan sekali lagi saya ingatkan, “Where there is a will, there is a way”. Saat naik roller coaster menggunakan rok... Alhamdulillah aman-aman saja kok, dan sekali lagi, “Where there is a will, there is a way” :) 

“...Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya...” Q.S. An-Nur: 31 

Jadi Muslimah Tangguh - #YukBerhijab 

Salam cinta dari khatulistiwa, 
Saudarimu, 

Dara Agusti Maulidya
Read More..

Minggu, 27 Oktober 2013

Setengah Semester Kuliah di Kedokteran

Fakultas Kedokteran UNTAN
Assalamu’alaikum microblogger semuaaaaa!!!! 
Long time no see ya :) 
Ada yang kangen? Haha abaikan. 

Well, Insya Allah kali ini saya akan berbagi pengalaman saya selama kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura dalam tiga bulan terakhir ini. Ada banyak, sangat banyak pengalaman, pengetahuan, teman, tugas, serta motivasi yang saya dapatkan disini. Mulai dari mana ya ceritanya? Hmmm, mulai dari tes masuk aja kali yah? 

Jadi begini ceritanya. Dua minggu sebelum menempuh Ujian Nasional SMA, saya dan 24 murid SMA Negeri 1 Sungai Raya yang lain mengikuti seleksi tahap I tes ikatan dinas kedokteran Kab. Kubu Raya. Seleksi pertama di tingkat kabupaten diikuti oleh 66 peserta se-Kubu Raya, dan sekolah kami merupakan sekolah yang mengirimkan perwakilan terbanyak dibandingkan sekolah-sekolah lainnya. Soal tes yang diujikan pada tahap I ini tidaklah terlalu sulit, karena sebagian besar soal berupa soal penalaran, bukan soal hitung-hitungan yang bisa bikin otak keriting. Soal ini disusun langsung oleh tim dosen dari FK UNTAN, sehingga kerahasiaan soal ini sangat terjaga (tsaaah).  
Lembar jawaban harus diisi menggunakan pensil 2B. Alhamdulillah pada hari itu saya membawa pensil 2B lengkap beserta rautannya. Hanya saja saya tak membawa penghapus yang pasti akan saya gunakan dalam proses pengerjaan soal. Maka, saya memutuskan untuk berkeliling ruang tes, mencari pinjaman penghapus. Sayangnya semua peserta hanya membawa 1 buah penghapus. Dan apa yang saya lakukan? Saya pun menghampiri teman saya, Sela, mengemis untuk memintanya membagi penghapusnya hehe. Karena kami adalah teman baik dan saling simbiosis mutualisme, maka Sela pun membagi penghapusnya menjadi 2 bagian dan meminjamkan satu bagian kepada saya. Ini sungguh so sweet sekali. Terima kasih Sela, penghapus ini akan sangat berguna nantinya. 

Proses pengerjaan soal pun dimulai, dan saya sangat gugup kala itu. Detik demi detik rasanya sangat lama berjalan, sehingga sudah tak terhitung lagi berapa kali saya membolak-balik soal yang berisi tentang biologi, fisika, kimia dan bahasa inggris itu. Akhirnya, saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Waktu mengerjakan soal sudah selesai! :D 

Dua minggu setelah prosesi seleksi tersebut, kami menjalankan UN SMA. Sudah pada tau kan ada berapa paket soal yang diujikan dalam UN 2013? Ya, hal itu membuat soal kami berbeda antara peserta yang satu dengan yang lainnya. Pada saat UN, saya duduk di antara Damar dan Dodi, dan banyak awkward moment yang tidak bisa saya ceritakan satu per satu sama kalian. Well, cerita tentang UN ada banyak banget, jadi di-skip dulu ya. Mungkin akan saya posting di lain waktu. 

Back to topic. Beberapa minggu setelah UN, hasil seleksi tahap I pun keluar. Dan alhamdulillah saya masuk di 10 besar, sebagai salah satu syarat untuk melanjutkan ke tes tahap II. Beberapa hari setelah itu kami melaksanakan tes tahap II di amphiteater FK UNTAN. Tes tahap II terdiri dari tes kemampuan akademik (biologi, fisika, kimia, bahasa inggris) dan psikotes. Pada hari pertama kami melakukan psikotes dari pagi sampai sore full. Di hari kedua, kami diberikan waktu untuk beristirahat. Pada hari ketiga dilaksanakan tes kemampuan akademik. Setelah ishoma di hari ketiga, lembar jawaban kami langsung di-scan didepan 69 peserta dari 7 kabupaten di Kalbar. Dan alhamdulillah, nama saya kembali masuk di lima besar. 

Tes selanjutnya adalah tes kesehatan bagi peserta yang lolos di lima besar. Ini adalah tes penentuan apakah kami dinyatakan layak untuk kuliah di FK UNTAN atau tidak. Tes ini berjalan lancar-lancar saja, hingga akhirnya saya kembali dibuat dag dig dug pada saat tes buta warna. Bukan... Saya tidak buta warna, tetapi terjadi kesalahan teknis pada saat saya ditanyain dokternya. Teman-teman pada tahu buku ishihara kan? Nah, buku itulah yang dipakai untuk mengetes tingkat kebutaan warna pada diri seseorang. Di buku ishihara itu ada sebuah gambar yang bukan berbentuk pola angka, tetapi saat ditanyain oleh dokter tentang gambar tersebut, saya dengan yakinnya menjawab, “angka 2, dok,”. 
Setelah keluar dari ruang pemeriksaan, saya menanyakan hal tersebut pada Ester. 
“Ter, di buku ishihara tuh semuanya angka kah?” 
“Hah? Ndak tuh. Ada yang bukan angka.” 
“Benarlah? Tadi aku jawab semuenye angka... Ade yang kayak cacing tuh aku bilang angka 2, ter,” “Udahlah, ndak ape-ape bah.” 

Akhirnya saya tidak bisa tenang pada saat itu hingga pengumuman hasil tes kesehatan. Dag. Dig. Dug. Waktu yang berjalan tiap detik demi detiknya terasa lamaaaaa sekali. Maka, saya pun memutuskan untuk pergi ke acara Dies Natalis UNTAN di Auditorium bersama Sela. Kami mengelilingi stand-stand yang ada hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 14.30. 
“Sel, ke amphiteater yok. Pengumuman jam 3 nih.” 
 “Yok lah.” 
Kami pun kembali menuju amphiteater dengan perasaan yang semakin dag dig dug. Baru saja sampai di parkiran depan Fakultas Kedokteran, saya melihat kedua orang tua saya sudah berada di hall depan FK, sepertinya mereka sudah mau pulang. Saya pun menghampiri mereka. 
“Mak, udah ke pengumuman?” 
“Udah dah. Udah selesai ni.”
 “Benarlah? Ngape di surat tu ditulisnye jam 3?” 
“Dipercepat pengumuman tu.” 
“Jadi cemane? Lolos dak, Mak?
 “Alhamdulillah, yang 3 besak tu lolos semue.” 
“Alhamdulilllah...” 
Saat itu seperti ada perasaan baru yang melingkupi saya. Mimpi, cita-cita, harapan yang kemudian terwujud. Amanah baru. Berkat doa-doa kalian. Orang tua, para guru, keluarga besar, kerabat, para mentor, tak lupa juga teman-teman yang mendukung maupun meremehkan. Semuanya. Terima kasih banyak :’) Jasa kalian tak akan pernah terbalas *hug*. 

Ini bukanlah akhir, karena ini hanyalah satu langkah ke depan. 

Dan yang lolos 3 besar semuanya berasal dari SMANSA SERA, saya, may, dan egi. Sesuai janji kepsek, beberapa hari setelahnya kami mengadakan syukuran di sekolahan. Kala itu Pak Faisal yang memimpin doa. Setelahnya adalah acara yang paling ditunggu, makan-makan di ruang guru! :9 

Tak lama setelah pengumuman tes ikatan dinas ini, hasil seleksi nasional masuk PTN pun diumumkan. Sore itu sudah hampir maghrib, dan saya sedang berselancar di dunia maya. Hp saya pun bergetar, pertanda bahwa ada sebuah panggilan masuk. 
“Halo? Assalamu’alaikum.” 
“Wa’alaikum salam, Dar...” 
“Oy? Ngape, Sel?” 
“Kau udah ngecek hasil snmptn belom?” 
“Belom Sel. Kalau keterima pun bah pasti aku cancel... Kau udah ke?” 
“Udah.” 
“Wesss. Lolos dak? Dimane?” 
“Alhamdulillah lolos Dar. Di MIPA.” 
“Cieee alhamdulillah. Nyaman dah lah, tak usah ikut sbmptn lagi.” 
“Tapi MIPA UI, Dar...” suara sela bergetar kala itu. 
“Alhamdulillah...” tiba-tiba suara saya tercekat. UI? Apakah orang tua Sela akan setuju? Apakah biaya hidup disana bisa dijangkau oleh orang-orang seperti kami? Apakah kemudian, jarak akan memisahkan persahabatan kami? 
“Cemane ni Dar? Aku takut emak aku ndak bolehkan.” 
“Ikhtiar jak dulu. Omongkan baik-baik Sel.” 
“Tapi biaya hidup disana mahal tu Dar. Okelah uang pangkal tahun ini ditiadakan, uang semesteran bise disesuaikan dengan penghasilan orang tua. Tapi bah...” 
“Udahlah, Insya Allah ndak ape-ape. Di UI kan banyak beasiswa. Bilang jak gitu ke emak kau nanti.”
“Hmm, iyelah...” 

Dan alhamdulillah, setelah melewati berbagai proses pro-kontra antara orang tua, keluarga, dan teman-teman, saat ini Sela sedang melanjutkan studinya di MIPA KIMIA UI. Selain Sela, ada banyak teman-teman lain yang melanjutkan pendidikannya di tempat-tempat yang super sekali yang tak bisa saya sebutkan satu persatu. 
*** 

Sepertinya cerita tentang tes masuk saja sudah panjang, ya? Baiklah, saya akhiri postingan ini sampai disini dulu. Keep reading untuk tahu kelanjutannya ya. Oh iya, Selamat Hari Blogger Nasional! Keep blogging :)
Read More..

Sabtu, 17 Agustus 2013

Adakah Ia Sebuah Surga?

"Bagi mereka, esensi rumah lebih daripada itu..."
  
Semilir angin gersang berhembus. Hawa panas yang tak biasa terasa menjerat tubuh. Aku bersembunyi di balik tembok rasis yang menghilangkan jutaan nyawa tak berdosa serta merampas masa depan jutaan nyawa lainnya. Pupilku melebar, berkeliaran mencari pantulan cahaya yang kukenal. Nihil, semuanya asing bagiku. Aku hanya bisa berusaha sekuat hati untuk memaksa perasaanku agar lebih tenang. 

 Hari ini aku mendapat amanah baru, menjadi relawan medis utusan Republik Indonesia yang harus bertugas di daerah konflik Palestina-Israel, Gaza. Dentuman bom sesekali terdengar, bersahut-sahutan dengan takbir yang lantang dari bibir para pemuda dan anak-anak yang tak pernah menyerah. Semua membaur, menciptakan sebuah harmoni tanpa arti. Barak pengungsian terletak hampir di sudut paling ujung jangkauan mataku. Dengan tangan melindungi kepala dan badan yang dibungkukkan, aku memutuskan untuk berlari menuju barak itu –sebuah tenda darurat tempat korban perang serta wanita dan anak-anak dikumpulkan- sampai pada akhirnya seorang ibu berjilbab merah marun menyambut kedatanganku. Pandangannya teduh, membawa isyarat seolah perang telah lama selesai. Mungkin ia adalah seorang istri yang ditinggal perang oleh suaminya, atau ibu yang telah kehilangan buah hatinya akibat konflik ini. 

“Salam ‘alaikum,” ucapnya. 

“’Alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawabku. “Perkenalkan, nama saya Zahra, relawan medis dari Indonesia. Insya Allah saya akan berada di sini selama beberapa bulan kedepan.” 

“Semoga Allah memberkatimu, nak. Saya Umi Faras. Mulai sekarang tinggallah di barak ini. Kami sangat senang atas kehadiranmu.” 

“Terima kasih, Umi.” 

Awan senja kemerahan menari pulang, digantikan oleh datangnya langit hitam bertabur bintang. Aku menerawang jauh, berpikir seandainya aku dapat melihat menembus gelap malam dan mengetahui rencana Tuhan. Tanah ini terlalu suci untuk dijadikan ladang pertumpahan darah. Anak-anak itu terlalu berharga untuk mati terbunuh. Tuhan, apa yang sedang Kau rencanakan? 
*** 

Deru helikopter Apache menabuh gendang telinga. Bunyi rentetan senjata menunggu mangsa. Dengan perlahan aku membalut kaki seorang anak lelaki yang terkena ledakan bom. Namanya Zayed, bocah berusia 11 tahun yang begitu berani menentang Israel. Ia bersama teman-temannya adalah pejuang sejati, anak-anak yang tak takut mati. Mereka adalah pejuang yang melawan senjata canggih para tentara Zionis dengan tangan yang siap melemparkan batu. 

“Mengapa kalian begitu berani melawan tentara Zionis?” tanyaku seusai menangani kaki Zayed. 

“Karena kami punya hak untuk hidup, belajar dan bermain. Tapi orang-orang Israel merampas itu semua dari kami,” jawab salah satu dari mereka. Ucapan itu bernada sederhana dan terus terang. 

“Aku tahu itu kawan, dan itu bukanlah alasan yang salah.” 

Masih ada dua anak lain yang terluka, Hamza dan Aseel. Sedari tadi mereka merintih menahan pedih dan hanya meratapi darah yang tak kunjung kering. Aku memeriksa keadaan Aseel, lantas menemukan sesuatu yang ganjil. Sebuah luka menganga yang terlalu dalam bagi pergelangan tangan mungilnya bersarang tanpa kasih. Aseel harus segera diamputasi. Aku bersama rekanku memutuskan mengamputasi tangan kanan Aseel dengan peralatan seadanya. Proses amputasi selesai beberapa jam kemudian sementara hari mulai menenggelamkan mentari. Kami mengantar Aseel menuju barak pengungsian. 

Pengaruh obat bius yang hanya bertahan sebentar mulai hilang. Gadis kecil itu membuka mata, sarafnya mulai tajam kembali. 

 “Aseel, kau baik-baik saja?” Aku mencoba membuka percakapan. 

“Apa yang terjadi?” Ia bertanya dengan segenap kepolosan kanak-kanak. 

“Kami memutuskan mengamputasi tangan kananmu. Ledakan bom itu berdampak bahaya jika dibiarkan.”

Iris matanya yang berwarna coklat lumpur berkilauan, menahan air mata yang hampir tumpah. Ia melihat tangan kanannya yang tak utuh lagi. Dalam sakit ia tersenyum. Senyum yang indah, sungguh seperti bunga. Anak perempuan yang masih 8 tahun itu tak gentar, tak takut pada apa yang dihadapinya. 

“Biarlah, yang hilang hanya sebelah kanan. Aku masih punya tangan kiri. Lihat! Bahkan ia masih berfungsi seperti dulu,” Aseel menggerakkan tangan kirinya. “Walau tak ditemani tangan kanan...” 

“Kau memang gadis pemberani, Aseel.” aku memujinya. “Hari sudah malam, maukah kau jika aku membacakan dongeng pengantar tidur untukmu?” 

“Aku sangat berterima kasih jika kau bersedia, Zahra.” 

Aku menceritakan padanya tentang kisah Gadis Berbaju Merah dan Serigala. Ia menyimaknya dengan khidmat. Ketika aku mengatakan bahwa gadis berbaju merah itu tidak pernah kembali ke rumahnya karena dimakan serigala, tiba-tiba ia memotong ceritaku. 

“Tidak, Zahra. Gadis berbaju merah itu tidak dimakan serigala. Tapi ia dibunuh oleh orang-orang Israel.” 

Aku tersentak, bagaimana bisa anak sekecil Aseel berpikiran seperti itu. Konflik panjang yang dialaminya telah meninggalkan trauma psikologis yang begitu hebat. Aku memandangnya lekat-lekat, ia masih terlalu muda untuk mengalami hal seberat ini. 

“Zahra, aku rindu ayahku. Sejak konflik ini ia pergi dan tak pernah kembali. Aku juga rindu rumahku yang hancur berkeping karena serdadu penjajah Zionis. Maukah kau menceritakan padaku tentang rumahmu disana?” Ia meminta dengan tulus. 

Aku memandangnya, menghela nafas dan mulai menjawab. “Bagiku, rumah adalah tempat yang menyambutmu dengan senyum, tempat yang membuatmu tentram di dalamnya. Dan –apa yang orang katakan rumah- milikku itu bukanlah sebuah rumah bagiku.” 

“Mengapa? Bukankah di negerimu banyak bangunan mewah yang bisa membuatmu tidur nyenyak?” 

“Kau tahu? Mungkin tempat yang kutinggali adalah salah satu dari bangunan mewah yang kau maksud. Tapi ia hanya indah dalam khayal, Aseel.” 

“Maksudmu?” ia tampak tak mengerti. 

“Aku tak suka individualisme yang ada disana. Orang-orang di rumahku terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing...” 

Hening. 

Aku mengajak Aseel keluar dari barak. Kami duduk di bawah pohon zaitun, diantara semak khurfeish.

“Sekarang giliranmu, Aseel. Ayo ceritakan padaku tentang rumahmu.” 

“Aku sedang merebut rumahku...” ia diam sesaat, melemparkan kerikil kecil disampingnya. “Dahulu aku tinggal bersama ayah di sebuah rumah sederhana, tapi penuh cinta kasih. Ayah bilang ibuku meninggal saat melahirkanku. Sejak kecil aku diasuh oleh adik ayah, Umi Faras.” 

“Jadi, Umi Faras itu bibimu?” 

“Ya, begitulah.” Aseel mengatur nafas, melemparkan kerikil untuk kedua kalinya. “Rumah kami terletak di desa Al ‘Izariyah, sebuah desa yang indah nan damai. Tapi semua itu berubah ketika serdadu Zionis datang.” 

“Apakah rumahmu dekat dari sini?” 

“Lumayan... jika kau mau, aku akan menunjukkan padamu besok.” 

“Baiklah, Aseel. Lebih baik kau tidur sekarang, hari sudah larut. Ayo kita kembali ke barak.” 
*** 

Seperti janjinya, hari ini Aseel mengantarku ke desa Al ‘Izariyah, salah satu desa yang dibelah oleh tembok pemisah hasil kerja penjajah Zionis untuk mengurung warga Palestina. Aseel menghembuskan nafas kuat-kuat, lalu berkata “Bisakah kau membayangkan apa yang ada di balik tembok itu, Zahra?” 

“Aku tak pernah melihatnya, dan aku rasa untuk membanyangkannya pun aku tak sanggup.” 

“Rumahku terletak di balik tembok itu...” ia menunjuk pada satu titik. “Aku rindu ayah...” 

“Sabarlah Aseel, suatu saat nanti kau pasti akan bertemu dengan ayahmu.” Aseel tampak berpikir keras. Raut wajah yang biasanya seperti bunga kini tampak berbeda. Matanya tetap tertuju pada titik yang ia tunjukkan padaku beberapa saat lalu. 

“Apa yang kau pikirkan?” tanyaku. 

“Rumah...” jawabnya dengan lirih. “Rumah yang abadi.” sambungnya. 

“Maksudmu?” tanyaku memperjelas. 

Aseel mengalihkan pandangannya padaku. Dan kali ini, untuk kesekian kalinya ia tersenyum, bagaikan bunga yang sedang mekar. Tiba-tiba timah panas dengan cepat menembus kepalanya. Cairan merah anyir tumpah begitu saja. Bunga yang sedang mekar itu tetap mekar, tapi tak merona lagi. Wajahnya yang lugu tiba-tiba pucat pasi seperti boneka yang patut dikasihani. Badannya tumbang ke pangkuanku. Jantungnya berhenti berdetak, nadinya berhenti berdenyut. Aku menggigit bibir, membendung tangis yang akan meluap. Tuhan, aku tak mampu melihat ini semua! 

“Innalilahi wa inailaihi raji’un....” hanya itulah kalimat terakhir yang mampu kuucapkan sebelum semuanya menjadi gelap. Suram. 

Aseel mungkin sudah tak ada lagi, tapi aku tahu satu hal: gadis kecil tak berdosa itu telah menemukan rumahnya, sebuah rumah yang abadi. 
*** 

Rumah bukan hanya soal atap yang dapat meneduhkanmu dari butir-butir hujan. Bukan sekedar pondasi yang dapat menahan berat tubuhmu. Bukan juga dinding kokoh yang menghalau gemuruh angin. Bagi mereka, esensi rumah lebih daripada itu. Rumah adalah tanah dimana kau dilahirkan dan sejak saat itu kau berkewajiban untuk mempertahankannya, bahkan dengan mempertaruhkan nyawamu. 
(Dara Agusti Maulidya)

INFO:
Cerpen yang saya publikasikan di blog ini telah dibukukan bersama beberapa cerpen lainnya yang ditulis oleh Komunitas Nulis Bareng Peduli Bareng. Seluruh keuntungan penjualan akan digunakan untuk kegiatan sosial yang disalurkan melalui Indonesia Mengajar. Untuk pemesanan, dapat melalui Rumah 1000000 Cerita.
Read More..

Selasa, 06 Agustus 2013

Soya de Latte!

yumm !

Soya de Latte adalah brand yang saya berikan untuk produk susu kedelai yang sedang saya rintis bersama salah seorang teman. Kali ini saya akan mencoba untuk berbagi resepnya (atas permintaan Mas Riyan). 

Untuk membuat susu kedelai, yang diperlukan bukanlah modal yang besar, tapi ketekunan. Karena jujur saja, agak ribet membuatnya bagi orang-orang yang tak terbiasa. 

Bahan yang diperlukan adalah:
- Kacang kedelai 100 gram (banyaknya bisa disesuaikan)
- Air 
- Gula, jahe dan daun pandan (opsional) 

Cara membuat: 
1. Pilih kacang kedelai yang berkualitas baik. Rendam kacang kedelai selama kurang lebih 6 jam. Bersihkan dari kulit ari kedelai (hanya opsional). 
2. Blender kacang kedelai dengan ditambahkan sedikit air. 
3. Peras untuk mendapatkan sari kedelainya. 
4. Tambahkan air ke dalam sari kedelai hasil perasan, rebus sambil terus diaduk. 
5. Tambahkan gula, jahe dan daun pandan sesuai selera. 

Selamat mencoba!
Read More..

Kamis, 01 Agustus 2013

Serpih Tangis di Bumi Pertiwi




Oh, lihat Ibu Pertiwi...
Sedang bersusah hati...
Air matanya berlinang...
‘Mas intannya terkenang...



Salah satu bait yang terdapat dalam lagu berjudul “Indonesia Pusaka” karya Ismail Marzuki ini sudah tak asing lagi di telinga kita. Berulang kali, mungkin tak pernah terhitung telah berapa kali kita menyenandungkannya. Tapi, pernahkah kita renungkan maknanya? Apa yang tertuang dalam bait lagu ini sangat tepat untuk mewakili kondisi bangsa tercinta kita saat ini.

Indonesia, negara kaya yang terdiri atas lebih dari 237 juta penduduk ini masih saja diselimuti dengan berbagai masalah kependudukan, terutama bagi para remaja. Masalah yang sedang kita hadapi tidaklah sesimpel satu ditambah satu sama dengan dua, masalah yang konon tak bisa dipecahkan dengan rumus-rumus eksak paling canggih sekalipun.

Letak geografis Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara lain seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Timor Leste, dan Papua Nugini menimbulkan masalah tersendiri di daerah perbatasan. Misalnya tentang NAPZA. Bukanlah hal yang asing lagi tatkala kita mendengar kasus-kasus penyelundupan NAPZA melalui daerah perbatasan. Nun di tapal batas sana, ada beberapa pos perbatasan yang tidak dijaga dengan ketat, dan hal ini menjadi celah bagi masuknya NAPZA secara ilegal dan bebas ke Indonesia. Akibatnya, banyak penduduk Indonesia yang terjerumus ke dalam jurang NAPZA.

Salah satu patok batas Indonesia-Malaysia

Penggunaan NAPZA melalui jarum suntik yang dipakai secara bersama-sama dapat menularkan virus HIV dari satu orang ke orang yang lainnya. Hal ini tentu saja akan menyebabkan berkembangnya penyakit AIDS. Pada akhir tahun 2012, diperkirakan ada lebih dari 500 ribu penderita AIDS di Indonesia. Sungguh jumlah yang sangat fantastis, apalagi mayoritas penderitanya adalah remaja, generasi yang diharapkan dapat meneruskan estafet pembangunan bangsa ini.

Dampak sosial dari industrialisasi sawit pun turut menyumbangkan permasalahan bagi Indonesia. Dari hasil survey yang dilakukan di salah satu daerah perkebunan sawit di Kalimantan Barat, pembangunan perkebunan sawit berbanding lurus dengan pembangunan tempat-tempat hiburan malam disekitarnya. Hal ini menyebabkan semakin bebasnya pergaulan para remaja disana, dan tak bisa dipungkiri bahwa semakin banyak anak-anak tak berdosa yang lahir tanpa ayah.

Married by accident bukanlah hal tabu lagi bagi para muda-mudi saat ini. Telah terjadi pergeseran budaya yang sangat, sangat jauh dalam beberapa tahun belakangan. Nilai budaya dan norma kesopanan sudah banyak yang berubah –untuk tidak menyebutnya sengaja diubah- karena sebuah proses yang kerap kali kita sebut “era globalisasi”.

Masih segar dalam ingatan saya pada saat saya masih sangat kecil, mungkin masih duduk di bangku TK, banyak tayangan televisi yang menayangkan sanksi sosial bagi para pelanggar norma-norma yang berlaku saat itu. Film WARKOP DKI misalnya, ada satu adegan dimana Dono sedang berdua-duaan dengan seorang wanita pada malam hari dan dipergoki oleh petugas –seperti polisi syariat di Aceh- yang sedang melakukan ronda. Atas perbuatannya, Dono diwajibkan untuk segera menikahi wanita tersebut. Padahal, apa yang dilakukan oleh Dono dan wanita itu sudah sangat lazim dilakukan kaum muda saat ini. Dan apa yang dilakukan oleh orang-orang yang melihatnya? Kebanyakan acuh tak acuh. Tak peduli.

Warkop DKI

Ada lagi satu adegan film yang lebih ekstrem sanksi sosialnya, tapi saya lupa judul filmnya. Dalam adegan itu, pasangan yang hamil diluar nikah dibawa ke suatu tempat, kemudian dicukur rambutnya hingga gundul dan diusir dari kampung tersebut. Semua warga menyaksikan prosesi itu, hingga tak dapat saya bayangkan betapa malu dan menyesal orang-orang yang melanggar norma-norma yang berlaku di daerah tersebut.

Beda dulu, beda sekarang. Jika diperhatikan dengan seksama, acara-acara yang ditayangkan oleh televisi kita saat ini sangat berbanding terbalik dengan zaman dulu. Bayangkan saja, saat pacaran sudah menjadi trend, saat kawin-cerai menjadi lifestyle, saat hubungan haram dilakukan tanpa rasa dosa... Hei, apa yang akan terjadi pada generasi muda mendatang?

Televisi dan internet merupakan media yang paling besar dan cepat mempengaruhi rakyat Indonesia. Menurut saya, untuk menanggulangi badai globalisasi yang tanpa filter itu, kita bisa memulainya dengan memilah tayangan dan situs apa saja yang boleh diakses oleh remaja seusia kita. Adapun untuk melakukan pencegahan dini bagi adik-adik kita yang baru menginjak usia remajanya, yang masih sibuk coba-coba demi menemukan jati dirinya, bisa dilakukan sosialisasi melalui dongeng dan wayang-wayangan di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Sedini mungkin, yang harus kita lakukan adalah memberikan pandangan dan pemahaman tentang mendidik anak dengan baik dan benar kepada para orang tua, guru pertama bagi anak-anaknya.

Dan pada akhirnya, pendidikan sebagai hak bagi seluruh warga negara merupakan salah satu kunci pokok dalam penyelesaian masalah ini. Setiap remaja berhak memiliki tempat untuk mendapatkan informasi dan menyalurkan pertanyaan-pertanyaan mereka yang mendesak akan jawaban itu. Dan pendirian PIK (Pusat Informasi dan Konseling) di semua sekolah, puskesmas, atau tempat apapun yang mudah diakses oleh para remaja adalah satu dari sekian banyak solusi yang rasional untuk dijalankan. Pendidikan agama dan karakter menjadi sebuah urgensi demi melihat bobroknya mayoritas remaja Indonesia sekarang. Jadilah GenRe, Generasi Berencana yang kelak akan mengharumkan negeri ini, menjadi bunga bangsa.

Saya yakin, dengan partisipasi penuh semua lapisan masyarakat, kita bisa mewujudkan Indonesia yang cerdas bermoral. Ayo, hapus air mata dan sinsingkan lengan baju! Kita bisa. Ya, kita pasti bisa!

Indonesia Raya...
Merdeka...
Merdeka...
Hiduplah Indonesia Raya!!!

MERDEKA!!!



Read More..

Selasa, 16 Juli 2013

Menulis Itu...

Alangkah indahnya jika postingan kali ini dibuka dengan sebuah quote yang saya kutip dari salah satu reciter quran favorit saya, Fatih Seferagic: “They say to prepare is easier than to repair, so we should use this Ramadan to prepare ourselves for the rest of the year until it comes again. Sometimes when you lose focus of what is supposed to matter in your life, Ramadan always shows you why you were created and what your purpose is. May Allah make this Ramadan a means of forgiveness and improvement for all of us.” 

Simpel, tapi maknanya luar biasa dalam :)

So, guys, I just wanna open this post with a sense of the blessing month. Ramadan Mubarak!

Hari ini tanggal 16 Juli 2013. Melihat tanggal postingan terakhir yang terpampang di blog. Mencermati, berpilin, menghitung. Selama itukah? 24 November 2012. Hampir setahun saya tak pernah membuat postingan baru di blog ini. Vakum? Hibernasi? Atau malas? Entahlah. Berulangkali saya mencoba untuk menyatukan otak, hati, dan tangan untuk mulai menulis lagi. Tapi entah kenapa, susah sekali untuk membuat mereka sinkron bekerja. Rasanya seperti ada sebuah batu besar yang menikam otak, memenjarakan hati, mengungkung inspirasi. Hingga suatu ketika saya memutuskan bahwa saya harus melenyapkan perangkap-perangkap ini. Saya harus membuangnya jauh-jauh.

I have to break it! And now, here I am. In front of my laptop. Trying to make it happen.

Beberapa minggu yang lalu, saat ke sekolah untuk cap tiga jari, saya bertemu dengan Pak Faisal. Kami berbincang sedikit. Tentang sekolah, kuliah, seleksi beasiswa, nasib adik kelas, dan sebagainya. Hingga sampailah saat dimana saya harus pamit pulang. Saat itu Pak Faisal berpesan bahwa saya harus tetap menulis. Ini sudah kali kesekian saya diingatkan oleh Pak Faisal untuk terus menulis. Dan saat itu, saya hanya bisa nyengir dan bilang “Insya Allah, Pak.” Sekarang, saya sedang berusaha untuk menunaikan janji itu, hutang untuk terus menulis.

Ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Ya, menuliskannya! Read More..

Sabtu, 24 November 2012

Tentang Sabtu Malam, Bubur Pedas dan Bule

doesn't it yummy? :9
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh! Alhamdulillah, kali ini bisa kembali posting di blog lagi. Sebelumnya marilah kita panjatkan doa bagi saudara-saudara kita di Palestina supaya diberi kekuatan oleh Allah SWT dalam menjalani hidup ini.

Baiklah sobat, pada malam Minggu Sabtu malam ini (ingat, SABTU MALAM) saya akan menceritakan pengalaman saya yang lumayan unik. Kenapa bisa dibilang unik? Karena peristiwa kayak gini jarang banget bisa dialamin. Alhasil, pada Sabtu malam ini saya menderita penyakit yang obatnya cuma ada satu di dunia. Penyakit apaan tuh? Kelaparan! Dan tau apa obatnya? Cuma ada satu, yaitu makan.


Hatta pada suatu ketika berangkatlah saya menuju kedai Bubur Pedas Pak Ngah yang terletak tidak begitu jauh dari rumah saya. FYI aja sih, bubur pedas itu salah satu makanan khas Kalimantan Barat yang supperr sekali rasanya. Karena tidak ada orang yang bisa saya ajak untuk pergi kesana, maka saya memutuskan untuk pergi sendirian. Sesampainya di kedai itu saya langsung memesan menu andalannya, semangkuk Bubur Pedas. 


Selang detik demi detik yang terlewati, datanglah pesanan yang saya nanti-nanti itu. Karena bubur pedas Pak Ngah ini supperr sekali rasanya, saya pun menikmati hidangan ini dengan penuh perasaan. Pada suapan terakhir, datanglah seorang ibu yang membawa anak beserta seorang lelaki. Dan kamu tahu sobat? Lelaki dan anak yang dibawa ibu itu adalah BULE! Emangnya ada apa sih sama bule? Biasa aja emang... Hanya saja yang membuat saya terkejut adalah sapaan ibu itu yang bilang gini ke saya: “Boleh duduk disini?” sambil menunjuk dan melihat kursi kosong di sebelah saya. Saya yang masih belum loading hanya bisa mengangguk.¬ Maka, mereka bertiga itu duduk satu meja dengan saya. Karena aneh melihat bule yang memesan bubur pedas, saya pun memutuskan memperlambat periode makan saya supaya bisa melihat bule yang lagi makan bubur pedas. Yah, namanya juga kurang kerjaan :P 

Sebenarnya saya ingin menanyakan tentang negara asal mereka. Namun, karena anak kecil bule yang unyu yang tadi dibawa ibu itu ga bisa diem, saya mengurungkan niat saya. Anak bule yang unyu itu sepertinya baru belajar mengeja (spelling). Hal ini saya simpulkan karena anak bule unyu itu selalu teriak-teriak ga jelas seperti ini: “Ar ei em ei... RAMA!!!” Begitulah kurang lebih kata-kata yang diucapkan anak bule unyu itu. Dan Ibunya, yang dia panggil Mommy hanya tersenyum melihat tingkah anak bule unyu itu. Kemudian, terjadilah percakapan diantara mereka. 

Anak Bule Unyu (ABU): “Mommy, I wanna spell your name...” 

Mommy Anak Bule Unyu (MABU): “My name?” 

ABU: “Yes, your name.” 

MABU: “My name is siti sann..” 

ABU: “No, Mom, your name!” 

MABU: “Yes, my name is Siti Sann..” 

ABU: “Es ai ti es ai...” 

MABU: “No, that called sitsi!” 

ABU: “ar ei em ei... RAMA!!!” 

Namanya anak kecil, itu lagi yang disebutin sama anak bule unyu itu. 

Kemudian bapak si bule itu sepertinya merasa tidak enak sama saya, lalu berkata (dengan agak berbisik) pada ibu si anak bule unyu itu.
Bokap Anak Bule Unyu (BABU): “Why is he always yelling?” 

MABU: “ What?” 

Karena bapaknya si anak bule itu ngomong sambil berbisik, mungkin si ibunya tidak mendengar dengan jelas dan salah menyimpulkan. 

MABU: “Okay. Let’s move.” 

BABU: “No...” 

MABU: “Move?” 

BABU: “Oh, okay...” 

Kemudian bapaknya si anak bule unyu itu senyum sama saya dan mereka pindah ke meja yang letaknya di seberang meja saya. 

Baru saja mereka berpindah, datang seorang anak laki-laki yang gerakannya sangat amat lincah. Mungkin anak itu adalah anak pemilik kedai Pak Ngah. Anak itu muter-muter di sekitar mesin kasir dan hal itu otomatis mengganggu kasir di kedai. 

Anak bule yang unyu tadi memperhatikan adegan itu dan menunjukkan tangannya mengarah ke anak nakal tadi seraya berkata: “Mommy, that is a naughty boy, right?”. Kemudian anak nakal itu mendatangi meja mereka dan memukul meja itu, dan kemudian masuk lagi ke belakang. Ibu dari anak bule yang unyu itu pun berkata pada anaknya: “Don’t point other!”. Dan anak bule yang unyu itu pun terdiam. 

Well, seperti itulah cerita di Sabtu malam ini. Semoga ada hikmah yang bisa kita ambil dari kisah di atas. Atas perhatian sobat yang telah meluangkan waktunya untuk membaca, saya mengucapkan terima kasih dan sampai jumpa!
Read More..

Minggu, 08 Juli 2012

Kemerdekaan yang Membangkang

Proyek ke-2 NBPB
FlashFiction ini diikut sertakan dalam proyek nulis bareng peduli bareng


 “Enam puluh tujuh tahun!” Kau berkata pada diri sendiri. Mempertontonkan rona bunga pada pipimu. Indah.

“Tapi kita masih saja seperti ini.” Ucapku bernada ketus. Sinisme telah mencapai puncaknya.

“Setidaknya kita sudah merdeka!”

“Merdeka? Ya, merdeka tanpa perjuangan. Merdeka tanpa pernah merasakan penjajahan.”

Kau tertawa. Tapi tawa itu sungguh tawa yang sumbang, sebuah tawa tanpa rasa.

“Lalu? Menurutmu? Apakah kita harus dijajah sebelum merdeka?”

“Tepat!” Ucapku mantap.

 “Cukuplah enam puluh tujuh tahun ke belakang Bangsa kita dijajah.” Hitam matamu bergerak ke kiri, membangkitkan ingatanmu tentang masa lalu. Tentang buku-buku sejarah yang kau baca. Tentang biografi para tokoh orde baru, orde lama, reformasi. Hitam matamu semakin dalam, membuatku ingin menyelam ke dalam pikiranmu. Ikut dalam arus sanubarimu. “Tepat enam puluh tujuh tahun yang lalu para pahlawan telah berhasil mengusir penjajah dari tanah kita. Proklamasi telah dikumandangkan. Itu artinya kita telah merdeka, bukan?” Kau mencoba protes.

“Jika para pahlawan berhasil menumpas penjajahan, maka kemerdekaan ini murni milik mereka, bukan kita.”

“Tapi kita adalah penerus mereka, dan kemerdekaan ini juga milik kita...” Kau menoleh padaku. “ Apakah kau masih merasa dijajah?”

Imajinasiku saat itu tak mampu memberi jawaban atas pertanyaanmu. Hitam matamu semakin dalam, memperlihatkan sebuah jurang tak berdasar.

“Entahlah, yang pasti aku tak mau terjebak dalam euforia palsu ini.” 

Tiba-tiba terdengar gemuruh tepuk tangan yang menggema. Sorak sorai bergembira. Apa yang menyebabkan ini semua? Pandanganku menjelajah sekeliling. Pupil-pupil orang tak dikenal yang berada di sekitarku tertuju pada satu titik. Lelaki di ketinggian itu! Badannya berlumuran cairan yang asing bagiku. Ia tersenyum dengan bangga, telanjang dada. Tanpa sungkan ia lemparkan semuanya. Manusia-manusia di sekitarku bagai sakaw menunggu candu, brutal merebut “lemparan-lemparan” itu. Mereka bilang inilah cara merayakan kemerdekaan, menikmati hadiah dari para pahlawan terdahulu. Panjat Pinang! 

Di sudut lain kulihat rakyat yang lapar. Sorot mata putus asa para petani yang kehilangan tanah garapan. Rintihan saku pengangguran. Iuran komite yang mencekik. Semua suara tiba-tiba saja menjadi kontra dengan eufoni dan harmoni, memecah gendang telinga, menyayat retina. 

Rupanya kau juga melihat itu, realitas yang terlupakan. Jiwamu yang sedari tadi tenang, kini bergejolak penuh dinamika. Sukmamu kusut masai.

“Kita... masih terjajah!” Kau tercekat, menyadari hal yang tak pernah kau sadari selama ini. “Enam puluh tujuh tahun, kita berada dalam pembangkangan terhadap esensi kemerdekaan itu sendiri... Distorsi hak asasi.”

 “Lalu, apa hakikat merdeka menurutmu?”

 “Merdeka adalah euforia membara saat kau menaklukkan sebuah pelenyapan asa: penjajahan.”

 *** 

Kemerdekaan adalah resistensi dalam menghadapi tekanan hidup, kekuatan besar dalam dirimu yang tak mungkin diutak-atik oleh siapapun 
-Dara Agusti Maulidya-
Read More..

Kamis, 22 Maret 2012

SEPUTAR DOMS 2012


here we are :)

Assalamu’alaikum microblogger semuaaaa :) apa kabar? Semoga aja selalu sehat dan berada dalam lindungan-Nya. Nah, hari ini saya mau berbagi pengalaman tentang sebuah kegiatan super yang saya dan 39 teman lainnya ikuti pada tanggal 17-19 Maret 2012 di FK Untan. Nama kegiatannya adalah DOMS, singkatan dari D’ Olympiad of Medical Science 2012. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Kedokteran Universitas Tanjungpura dalam rangka memperingati Hari TBC.
Mau tau gimana serunya kegiatan ini? Just keep reading :)


*** Sabtu, 17 Maret 2012 ***
Seperti olimpiade lain pada umumnya, hari pertama DOMS dimulai dengan pembukaan di gedung ampitheater FK Untan. Setelah itu kami melaksanakan tes tahap I. Kami diberikan 100 soal tentang sains kedokteran. Kalo jawabannya benar dapat poin 4, salah dikurangi 1, kalo ga jawab ya ga dapat nilai :P. Soal-soal pada tahap ini cukup “menjebak” dan lumayan bikin bingung. Setelah merasa cukup mengerjakan soal pada tahap ini, saya mencoba untuk bikin gambar-gambar ga jelas di lembar soalnya. Kebetulan lembar soal yang dikasi boleh dijadiin wadah corat-coret. Gambar pertama yang saya bikin agak ancur, jadi saya memutuskan untuk membuat gambar berikutnya. Saya terus ngegambar ga jelas hingga pada akhirnya... saya berhasil bikin comic strip! Huehehehe :D. Cerita di komiknya freak banget deh, tokoh utamanya ada kuntilanak (antagonis) dan seekor kucing. Gambar si kuntilanak juga abstrak. Dibilang manga, bukan. Tapi kalo dibilang bukan manga, juga bukan -_-

Tak terasa waktu 120 menit yang diberikan untuk mengerjakan soal sudah habis. Panitia pun mengumpulkan lembar jawaban kami. Setelah semua lembar jawaban dikumpulkan, saya menoleh ke salah satu teman saya – Sela yang duduk di belakang saya. Terjadilah sebuah percakapan absurd.
Saya: “akhirnyaaa....”
Sela: “kau ngisi berape dar?”
Saya: “nda ngitung... kau?”
Sela: “50, Galuh juga ngisi 50.”
Saya: “oooh. Sel, cobe liat...” *nunjukin comic strip di lembar soal*
Sela: *cekikikan*
Saya: “huehehehe...”
Beberapa detik kemudian, dalam selang waktu yang sangat singkat (seperti limit x → 0), datang kakak-kakak panitia yang ngambil lembar soal saya. Karena bingung, saya pun bertanya kepada Sela.
Saya: “sel, lembar soal dikumpulin juga ya?”
Sela: “nda tau...”
Sela langsung nanyain ke kakak panitianya: “kak, soal juga dikumpulkan ya?”
Kakak Panitia: “iya dek...”
Saya: “hah? Dikumpulin? Comic strip aku...”
Sela: “huahahahaha” *seperti tertawa di atas penderitaan orang lain*

Yah, seperti itulah awkward moment yang terjadi di hari pertama DOMS. Di hari-hari berikutnya bahkan lebih banyak lagi hal-hal aneh yang terjadi -___-

Okay, back to topic. Setelah menyelesaikan tes tahap I di hari pertama, kami mendapat kesempatan berharga untuk berkeliling FK Untan, dipandu dua orang guide pula (guide kita sebenernya kakak panitia -_-V). Agenda ini namanya Tour d’ FK. Kami diajak untuk melihat-lihat lab yang ada, ruang diskusi, dan tempat-tempat menarik lainnnya (termasuk kolam ikan yang ada di taman).


*** Minggu, 18 Maret 2012 ***
Di hari kedua ini, kami melaksanakan tes tahap II. Kami melaksanakan diskusi kelompok, dimana kami diberikan sebuah kasus dan diharuskan untuk memecahkannya. Setelah itu dilanjutkan dengan practical lab. Kemudian diadakan sebuah workshop kesehatan oleh dr. Sari. Dan pada detik-detik workshop hampir dimulai, lagi-lagi sebuah kejadian yang absurd terjadi.

Kakak panitia: “dr. Sari mungkin terlambat hadir, dek. Beliau lagi ada kepentingan lain. Jadi kita nunggu sebentar ya. Oh iya, yang dari luar daerah mana-mana aja nih?”
Anak-anak: “Ketapang.... Sambas...”
Saya dan Sela: “Kubu Rayaaaaaaa”
Kakak Panitia: “kakak mau ngedengerin pesan kesan dari yang luar daerah nih. Yang dari Ketapang kasi kesan dan pesan dong... Kan paling jauh...”

Anak-anak Ketapang (Enry, Utin, Lucy) cuma senyum aja. Dugaan saya, mereka sebenernya mau nyampein kesan dan pesan, cuma kayaknya mereka pemalu-pemalu gimanaaaaa gitu :p. Hehe, peace yaaaa ceman-ceman :D

Kakak Panitia: “Kalo yang dari Ketapang ga mau, yang dari daerah lain aja deh...”
Sela: “Kubu Raya kak... Kubu Raya”
Kakak Panitia: “ya udah, yang dari Kubu Raya aja yang kasi kesan dan pesan...” *kakak panitia ngeliatin saya*
Saya: “hah? Siapa? Aku?”
Sela: “iye... majulah...”

Glodakkk!!! Selaaaaaa!!!! Itu anak bikin ulah aja. Alhasil, majulah saya untuk menyampaikan pesan dan kesan. Saya ga tau mau ngomong apa, jadi ngawur deh. Bukannya ngasi kesan dan pesan, saya malah berasa nge-mc, hehe. Emang bakat alam orang sanguinis kali ya u,u.

Alhamdulillah, kedatangan dr. Sari menyelamatkan saya. Berhubung beliau sudah datang, saya pun menyelesaikan cuap-cuap saya. Workshop pun dimulai :)
Di tengah workshop, kebanyakan peserta sudah mulai ngantuk. Membaca gelagat ngantuk kami, dr. Sari menghentikan sebentar materi yang sedang disampaikannya.

dr. Sari: “sudah mulai ngantuk ya?”
anak-anak: “iya... ngantuk...”
dr. Sari: “kalau ngantuk mau ngapain nih?”
Saya dan Sela: “senam otak... senam otaaaak...”
dr. Sari: “oooh, mereka mau senam...”
Kakak Panitia: “ya udah, kalo gitu adek yang pimpin temannya buat senam otak ya...” *ngeliatin saya lagi*
Saya: “siapa? Aku lagi kak?”
Kakak Panitia: “iya...”

Surprise! Untuk kedua kalinya saya maju ke depan. Saya rasa ini adalah saat yang tepat untuk balas dendam ke Sela, hahaha. Saya pun maju ke depan.
Saya: “kak, aku butuh alat peraga... Sela... sini ikutan...”
Sela: “ndak ah...”
Saya: “susah kalo meragain sambil megang mic.. ayolah, bantu...”

Akhirnya Sela jadi alat peraga buat senam otak, sedangkan saya jadi pemandunya, wkwk. Setelah senam otak, kami melajutkan kembali workshopnya.
Setelah workshop kami mendapat materi tentang KKD (Keterampilan Klinik Dasar). Dilanjutkan pengumuman peserta yang masuk 9 besar dan Lomba Cepat Tepat untuk menentukan siapa saja yang menjadi finalis 3 besar.


*** Senin, 19 Maret 2012 ***
Dilaksanakanlah LCT untuk menentukan pemenang DOMS 2012. Acara berlangsung dengan seru dan lumayan menegangkan. Setelah LCT selesai, ada coffee break selama kurang lebih 15 menit yang kemudian dilanjutkan dengan penutupan DOMS. Waktu penutupan, diputar video kegiatan kita selama mengikuti DOMS. And guess what? Video itu lebih banyak menampilkan aib kita. Ada lah waktu anak-anak narsis, waktu ngantuk, dan yang paling parah potonya justian pas lagi nguap. Setelah puas mentertawai video aib tersebut, tibalah saat yang paling ditunggu-tunggu. Pengumuman pemenang DOMS 2012!!!

And the winner is..... eng ing eng....
The 3rd place : Juvinto dari SMAN 3 Pontianak
The 2nd place : Akbar dari SMAN 3 Pontianak
The 1st place : Justian dari SMA Santu Petrus Pontianak

Yaaaah, demikianlah akhir dari DOMS 2012. Saya punya sedikit testimoni dari teman-teman peserta DOMS. Ini dia...

Testimoni spesial yang ditampilin pertama dari Justian aja yah. Yang juara 1 itu looh :D

Baru kali ini ikut lomba Untan yang seoke ini. Lomba DOMS ini keren banget walau namanya rada alay. Peserta-peserta dari luar kota pun banyak ikut. Padahal aku hampir gak belajar sama sekali buat lomba ini -___- (Justian Harkho)

Yang kedua, testimoni dari Utin, teman baru saya dari Ketapang.

Dapat teman baru nih, banyak banget.
Bisa kenal dunia kedokteran.
Terus semangat buat teman-teman.
(Utin Belifa Aris Nabila)

Yang terakhir, testimoni dari saya aja yah. Huehehe

We are change from zero to hero like Kung Fu Panda the movie. 3 days to make lots of progress in our life. DOMS 2012? SUPERRRRR!!! :D (Dara Agusti Maulidya)

Nb: buat teman-teman yang testimoninya belum saya tampilin, mohon maaf ya. Testimoni kalian tetap tersimpan rapi di personal kit dan hati aku kok :3 eh (?) Oh iya, mungkin ada yang bingung aku bisa dapat testimoni anak-anak dari mana. Jadi gini ceritanya. Beda sama personal kit teman-teman lain yang kebanyakan isinya materi yang didapat selama DOMS, kit punyaku isinya biodata anak-anak sama testimoni dari mereka. Walaupun engga dapat dari semua peserta, tapi lumayan lah buat kenang-kenangan :)

GANBATTE !!!
Read More..

Sabtu, 10 Maret 2012

TOUCHDOWN SINGAPORE! - Catatan Mengikuti Program Telkomsel International Homestay 2011 (Part 1)


Zoo !
assalamu'alaikum!
postingan ini pasti udah dibaca sama yang rajin baca mading di sekolah, hehe. here it is :)
Berada di empat negara yang berbeda dalam waktu dua minggu merupakan hal yang luar biasa bagi saya. Bertemu teman-teman baru, mendapat ilmu baru, mempelajari budaya setempat, hingga beradaptasi dengan suhu ekstrem adalah pengalaman yang tak akan pernah saya lupakan.
-Dara Agusti Maulidya-

Semua itu bermula ketika saya terpilih menjadi delegasi Kalimantan Barat dalam program Telkomsel School Community International Homestay 2011. Bersama 42 teman lain dari seluruh penjuru Indonesia, kami memulai petualangan kami dengan mengikuti seleksi di masing-masing Kantor Cabang Telkomsel. Setelah terpilih, kami diberangkatkan menuju Jakarta pada tanggal 16 Desember 2011 untuk mengikuti karantina di Hotel Pullman, Jakbar.


Perjalanan ke Singapura kami tempuh menggunakan pesawat Singapore Airlines pada tanggal 18 Desember 2011. Setelah menikmati perjalanan selama 1,5 jam, akhirnya kami tiba di Changi Airport, bandar udara Singapura. Kami masih harus menyelesaikan beberapa urusan keimigrasian di bandara ini sebelum menuju tempat istirahat kami, Costa Sands Resort yang berada di daerah Pasir Ris.


Keesokan harinya kami melakukan kunjungan ke Coleman College Singapore, tempat dimana kami akan menuntut ilmu selama di Singapura. Pada hari pertama, kami mengikuti replacement test untuk mengetahui sampai dimana tingkat pengetahuan kami dan menentukan kelas mana yang akan kami masuki. Setelah selesai mengikuti tes masuk, kami melaksanakan Sholat Dzuhur di masjid yang terletak di belakang sekolah kami. 


Jika di Indonesia sering terjadi kemacetan lalu lintas, beda halnya dengan Singapura. Transportasi utama negara Singa ini hanya menggunakan SMRT atau Singapore Mass Rapid Transit, sebuah sistem angkutan cepat yang membentuk tulang punggung dari sistem kereta api di Singapura dan membentang ke seluruh negara kota ini. Bagian pertama dari MRT ini, antara Stasiun Yio Chu Kaang dan Stasiun Toa Payoh, dibuka tahun 1987 dan menjadi sistem angkutan cepat tertua kedua di Asia Tenggara, setelah sistem LRT Manila.

Eki ketiduran di MRT~

Jaringan ini telah berkembang cepat sebagai hasil dari tujuan Singapura untuk mengembangkan jaringan kereta yang lengkap sebagai tulang punggung utama dari sistem angkutan umum di Singapura dengan perjalanan penumpang harian rata-rata 2 juta jiwa. Layanan ini beroperasi mulai pukul 5:30 pagi dan berakhir sebelum pukul 1:00 pagi setiap hari dengan frekuensi tiga sampai delapan menit, dan layanan ini diperpanjang selama hari-hari libur Singapura. SMRT juga menyediakan tempat duduk khusus untuk orang-orang yang sudah lanjut usia. Tempat duduk ini dinamakan “Reserved Seat”. Tempat duduk tersebut telah disiapkan khusus bagi mereka yang telah berusia lanjut dan memiliki cacat fisik.


Bukan hanya sistem transportasi Singapura yang berhasil membuat saya betah berada di sana. Budaya mengantri masyarakat Singapura, kebersihan, kedisiplinan, serta etos kerja mereka yang tinggi juga menjadi pendorong kekaguman saya pada negara yang memiliki luas tak lebih dari 710 km² ini. Tak pernah sekalipun saya melihat orang yang memotong antrian dan membuang sampah sembarangan. Tempat sampah yang terletak di tempat-tempat umum dibuat sedemikian menarik agar masyarakat membuang sampah pada tempatnya.
Read More..

Minggu, 19 Februari 2012

INDONESIAN LEADERSHIP AWARDS (ILA) 2012


Info tentang beasiswa ke 3 universitas di Jepang, nama programnya Indonesia Leadership Awards (ILA) dari Surya Institute. Beasiswa ini diperuntukkan bagi lulusan SMA/sederajat yang ingin melanjutkan studi S1. Semoga tahun ini depan saya juga bisa apply :)
here it goes ...

A. MENGENAI ILA

Indonesia Leadership Awards (ILA) adalah program beasiswa yang diperuntukkan bagi anak-anak bangsa terbaik, lulusan sekolah menengah atas/sederajat untuk melanjutkan pendidikannya di universitas terbaik di dunia. Untuk tahun 2012 ini, ada tiga universitas mitra untuk program ILA yaitu Kyoto University, Nagoya University dan Tohoku University.

B. PERSYARATAN

1. Sehat jasmani dan rohani.
2. Bebas narkoba.
3. Untuk Lulusan tahun 2011 Nilai Rata Rata U.N Matematika, Fisika dan Kimia > 7,5 (kelompok A) dan Nilai Rata-rata Matematika, Kimia dan Biologi > 7,5 (kelompok B).
Untuk yang akan lulus Nilai Raport Kelas 2 adalah Matematika, Fisika dan Kimia > 7,5 (kelompok A) dan Nilai Rata-rata Matematika, Kimia dan Biologi >7,5 (kelompok B).

Untuk kelompok A dan B lihat bagian Beasiswa dan Program studi.
4. Umur tidak lebih dari 21 tahun pada tanggal 1 Oktober 2012 (lahir tidak lebih awal dari tanggal 1 Oktober 1991).
5. Belum menikah dan bersedia tidak menikah selama mengikuti pendidikan
6. Tidak sedang menjalankan ikatan dinas dengan instansi lain.
7. Bersedia mematuhi peraturan dari Lembaga Nan-Unggul Indonesia, Universitas Partner dan para donor.
8. Bersedia menandatangani Surat Kontrak Beasiswa bagi yang dinyatakan lulus seleksi

C. SELEKSI

Seleksi akan dilaksanakan tiga tahap :
1. Seleksi tahap 1 : Matematika, Fisika, Kimia, Bahasa Inggris (kelompok A)
Matematika, Biologi, Kimia, Bahasa Inggris (kelompok B)
( 60 soal pilihan ganda waktu 150 menit ).
Lima (5) Peserta terbaik masing-masing wilayah dan 25 peserta terbaik secara nasional akan lolos ke seleksi tahap 2
2. Seleksi tahap 2 : Bahasa Inggris (IELTS) dan interview dengan Lembaga Nan-Unggul dan donor
3. Seleksi tahap 3 : Interview dengan Universitas Partner (Kyoto University, Nagoya University dan Tohoku University)

D. BIAYA SELEKSI

Rp. 250.000,- (dua ratus lima puluh ribu rupiah), dibayarkan ke rekening Yayasan Nobel Indonesia, baik melalui ATM, setoran tunai, SMS Banking, maupun internet Banking. (lebih disarankan via atm dan setoran tunai). Biaya yang telah disetor tersebut, tidak dapat ditarik kembali dengan alasan apa pun.
No Rekening Tujuan
Nama Pemilik Rekening : Yayasan Nobel Indonesia
No rekening : 102-00-0539082-5
Bank : Bank Mandiri
Cabang : KCP Jakarta Senayan City

E. PROSEDUR PENDAFTARAN

1. Calon peserta mendownload formulir pendaftaran di website Surya institute mulai tanggal 22 November s.d. 28 Februari 2012. (Klik di sini)
2. Peserta kemudian mengisi formulir dengan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan kebenaranya.
3. Calon peserta membayar biaya seleksi ke rekening Yayasan Nobel Indonesia (No Rek : 102-00-0539082-5 , Bank Mandiri cabang Jakarta Senayan City) baik melalui Setoran Tunai, ATM, maupun M-Banking. (dianjurkan untuk membayar melalui setoran tunai dan ATM).
4. Peserta mengembalikan Fomulir yang telah diisi dilengkapi dengan bukti pembayaran melalui email ke alamat nobel.indonesia@suryainstitute.org dan di cc ke nobel.indonesia@gmail.comatau melalui Fax ke nomor fax (021) 53162197, selambat-lambatnya Sabtu 22 Januari 2012 Jam 17.00 WIB
5. Panitia kemudian akan mengirimkan Kartu Peserta Seleksi melalui email peserta selambat-lambatnya Tanggal 25 Januari 2012 jam 16.00

F. LOKASI SELEKSI

Untuk Indonesian Leadership Awards 2011 Seleksi direncanakan akan dilaksanakan di Kota Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta dan Surabaya, Medan, Padang, Makasar dan Palembang. Peserta silahkan memilih satu diantara kota-kota yang disebutkan diatas pada formulir pendaftaran.
Lokasi Seleksi (tempat dana alamat) akan diumumkan dihalaman web ini pada tanggal 1 Maret 2012

G. BEASISWA dan Program Studi

Empat peserta terbaik akan mendapatkan Full scholarship untuk melanjutkan kuliah di Program Global Engineering Kyoto University Jepang.
Enam peserta terbaik akan mendapatkan Full scholarship untuk melanjutkan kuliah di Program Future Gloabl Leader, Tohoku University, Jepang.
Sepuluh peserta terbaik akan mendapatkan Full scholarship untuk melanjutkan kuliah di Program Global 30- Nagoya University.
Beasiswa mencakup:
1. Biaya Kuliah
2. Biaya Hidup
3. Biaya pendaftaran ke Universitas
4. Biaya pengurusan VISA
5. Tiket pesawat pp

Tiga peserta terbaik masing-masing wilayah akan mendapatkan beasiswa bantuan SPP (jika diterima di perguruan tinggi negeri di tanah air).

Program Studi
Peserta boleh memilih dua program studi HANYA DALAM KELOMPOK YANG SAMA, yaitu:
Kelompok A
Teknik Sipil Kyoto University
Teknik Mesin dan aerospace Tohoku University
Fisika/Fisika Aplikasi Nagoya University

Kelompok B
Kimia/Kimia terapan Nagoya University
Biologi/Biologi terapan Nagoya University
Kimia Material/molecular Tohoku University
Biologi Kelautan Tohoku University


H. PEMERIKSAAN BERKAS

Bagi yang dinyatakan lulus seleksi tahap I dan mengikuti seleksi tahap II, wajib menyerahkan berkas di bawah ini pada waktu seleksi tahap II (wawancara) untuk diperiksa:
1. Fotokopi Rapor SMA/MA yang telah dilegalisir (halaman data pribadi dan nilai).
2. Fotokopi Ijazah SMA/MA yang telah dilegalisir. Bagi yang lulusan tahun 2011


I. PENGUMUMAN HASIL SELEKSI

Hasil seleksi tahap 1 akan diumumkan di halaman website ini pada hari


I. TANGGAL PENTING

Pendaftaran : 22 Nov 2011 sd 2 Maret 2012
Pengumuman Lokasi Seleksi : 7 Maret 2012
Seleksis tahap I : 11 Maret 2012
Pengumuman Hasil Seleksi Tahap I : 25 Maret 2012
Seleksi tahap II : 31 Maret – 1 April 2012
Seleksi tahap III : diatur kemudian


J. WEBSITE RESMI DAN ALAMAT PANITIA SELEKSI

Website resmi Indonesian Leadership Awards : www.suryainstitute.org
Alamat Panitia Seleksi Indonesian Leadership Awards
Lembaga Nan-Unggul Indonesia
Golden Boulevard Blok U No 3- 6
Jl. Pahlawan Seribu, BSD City Serpong, Tangerang 15322
Telp (021) 5316 3394-98, fax (021) 5316 2197

K. LAIN-LAIN

1. Segala perubahan ketentuan yang berkaitan dengan pelaksanaan Indonesian Leadership Awards akan diinformasikan melalui website Surya Institute.
2. Hati-hati dengan penipuan yang mengatasnamakan Surya Institute dan Lembaga Nan-Unggul Indonesia.

--- sumber informasi ---
Read More..